Kelola Situs Berita hingga Bikin Award Tahunan 18 August 2007 17:58:07
Rukun tetangga (RT), ternyata, bisa berkembang mengikuti zaman. Dari yang semula hanya mengurusi kebersihan atau keamanan lingkungan, wadah yang dibentuk untuk merukunkan warga itu mulai merambah ke ranah yang lebih luas.
Any Rufaidah
Di tengah masyarakat yang kian sibuk, tak banyak orang tahu atau peduli dengan struktur RT yang terbentuk di lingkungannya. Biasanya, RT, terutama ketuanya, baru dibutuhkan saat mengurus dokumen atau saat ada agenda Agustusan seperti kali ini. Tapi, kondisi itu tidak berlaku bagi warga RT 5 RW 8 Pondok Benowo Indah (PBI) Kelurahan Babatjerawat, Kecamatan Pakal, Surabaya.
Di kompleks perumahan yang terletak di Surabaya Barat itu, RT berkembang layaknya organisasi profesional dengan seabrek kegiatan. Salah satunya mengelola situs bernama rtlima.com. Isinya, berita kegiatan warga RT 5 dan wilayah lain di seputar PBI. Mulai jalan rusak, toko yang menyalahgunakan trotoar, hingga penggusuran pedagang kaki lima.
Awalnya, situs tersebut hanya dibuat untuk menyalurkan keisengan Bagoes Ardiyanto yang kala itu menjadi ketua RT 5. "Saat itu pada 2001, saya baru setahun menjadi RT. Kebetulan ada teman yang menawarkan hosting gratis. Karena saya ingin belajar web design, saya membuat situs rt5rw8pbi.got.to," tutur pria yang dua bulan lalu baru saja melepaskan jabatannya sebagai ketua RT 5 tersebut.
Saat itu, situs tersebut hanya berisi foto-foto kegiatan warga dengan sedikit keterangan. "Semacam company profile-lah," cetusnya. Beberapa kali saat rapat RT, manajer teknik Suara Surabaya itu menceritakan mengenai situs tersebut kepada warganya. Wacana pun berkembang. Banyak yang menginginkan situs itu juga memuat berbagai hal yang terjadi di seputar PBI.
Setelah dibahas selama dua tahun lebih, akhirnya Bagoes dibantu pengurus RT lain meluncurkan situs rtlima.com. Biaya sewa hosting dan domain ditanggung Bagoes pribadi. "Saya memang ingin memasyarakatkan internet," katanya ketika ditanya mengapa mau merogoh koceknya untuk program itu. Selain foto kegiatan warga, situs tersebut dilengkapi berita terhangat sekitar PBI dan tentu saja, Surabaya.
Untuk mendapatkan berita, rtlima.com mempunyai empat reporter. Mereka direkrut dari remaja sekitar. "Awalnya yang tertarik puluhan. Tapi, setelah berjalan, hanya tinggal empat yang aktif," tutur Bagoes. Meski hanya meliput di sekitar PBI, keempat reporter itu kewalahan. "Sering RT lain mengundang kami agar acaranya diliput," lanjutnya. Karena itu, mereka tengah mempersiapkan pengaderan reporter baru.
Agar memenuhi kaidah jurnalistik, para reporter muda itu diberi pelatihan dengan mendatangkan kolega Bagoes di Suara Surabaya. "Kami ajari mereka memilih angle berita serta kualitas berita yang layak diliput atau tidak," jelas bapak empat anak itu. Layaknya reporter media lain, setiap reporter rtlima.com dilengkapi kartu pers serta sebuah kamera saku yang digunakan setiap liputan.
Salah seorang reporter yang tergabung dalam RT 5 adalah Marina. Meski tak digaji, cewek yang berkuliah di Unesa itu mengaku menikmati kegiatannya sebagai reporter. Apa pengalaman yang paling seru? "Dikejar pedagang kaki lima," serunya lantas tertawa. Kala itu, dia tengah memotret pedagang kaki lima yang digusur. Rupanya, salah seorang di antaranya tersinggung dan mengejarnya. Setelah dijelaskan, orang itu pun minta maaf.
Kini rtlima.com sudah hampir empat tahun berjalan dan mendapat sambutan positif dari warga. Mereka juga sudah mulai menerima pemasangan iklan untuk menutup ongkos operasional. "Banyak juga orang-orang dari Kalimantan, Jawa Barat, bahkan Suriname yang mampir ke situs kami dan memberikan komentar positif. Malah ada yang ingin belajar mengembangkan situs serupa di daerah asalnya," jelas Bagoes.
Meski banyak tanggapan positif, ada pula orang yang mencibir. "Ada orang dari blok lain yang mampir dan memberikan komentar miring. Tapi, kami biarkan saja. Kadang yang membela kami bukan dari blok RT 5," ujar Bagoes yang kini menjadi ketua RW 8. RT 5 memang hanya terdiri empat blok. Yakni, MM, NN, LL, dan Z. Total ada 60 keluarga yang tergabung dalam lingkup RT 5.
Kelebihan yang dimiliki RT 5 bukan hanya situs berita. Mereka juga punya yang namanya Board of Academy RT 5 (BA). Tugasnya, memilih penerima penghargaan RT 5 Award. Idenya datang spontan saat warga dan pengurus RT rapat. BA secara resmi dibentuk pada pertengahan 2005 dengan lima anggota. Empat orang dari pengurus RT, termasuk Bagoes, dan satu ketua PKK, yakni Ny Siagian.
RT 5 Award diberikan kali pertama pada 2005. Saat itu, warga bernama Eka Budi mendapat penghargaan sebagai warga pertama yang mau mengurus kartu tanda penduduk (KTP) dengan alamat RT 5. "Di sini banyak pendatang yang malas mengurus kepindahan alamat. Nah, dengan penghargaan ini, kami ingin memotivasi warga lain agar mengikuti langkah Pak Eka," jelas Edi Sukiswo, mantan sekretaris RT 5.
Karena baru pertama, tidak ada hadiah istimewa yang diberikan kepada Eka. BA hanya memberikan piagam penghargaan berbentuk duplikat KTP raksasa. Kendati demikian, hal itu tak mengurangi kebahagiaan Eka. "Lihat saja di ruang tamu Pak Eka, KTP raksasanya dipigura dan dipajang," lanjut pria yang menjadi dosen fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta itu lantas tertawa.
Hadiah lebih baik diterima keluarga Darwanto (Bedun). Mereka terpilih sebagai penerima RT 5 Award tahun lalu. Alasannya, seluruh anggota keluarga tersebut aktif dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan RT 5. Untuk itu, mereka berhak menginap gratis sehari semalam di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Dari mana dananya? "Ya semua anggota BA urunan," kata Edi.
Menurut Edi yang juga menjadi salah seorang anggota BA, mereka mengusahakan penerima Award memang orang yang benar-benar layak. Itu menghindari adanya kecemburuan sosial. Karena itu, dalam setiap acara penganugerahan hadiah yang berlangsung bersaman dengan panggung Agustusan, mereka menyertakan alasan-alasan kenapa orang tersebut terpilih.
"Seperti tahun lalu, ada enam keluarga yang menjadi kandidat. Semuanya kami panggil ke panggung. Setelah itu, kami paparkan keterlibatan masing-masing keluarga dalam kegiatan warga melalui foto-foto yang ditayangkan dalam bentuk slide. Dari situ, ketika kami menyebut keluarga Bedun yang menerima, tidak ada orang yang protes. Semua tahu keluarga Bedun memang aktif," jelas Edi panjang lebar.
Tidak ada kriteria pasti mengenai penerima RT 5 Award. Setiap tahun pasti berbeda. Semuanya bergantung masukan warga. Biasanya, kriteria tersebut muncul tiga hari sebelum hari H panggung hiburan. "Kalau lama-lama, kami takut bocor," tutur bapak tiga anak itu. Pemilihan juga tidak berjalan lancar. "Selama tiga hari itu kami sering otot-ototan," lanjutnya.
Selain BA, ada divisi lain yang membedakan RT 5 dengan RT daerah lain. Yakni, divisi event organizer (EO) yang beranggota lima orang. EO itu bertugas sebagai pelaksana berbagai kegiatan di RT 5, termasuk acara agustusan. "Jadi, setiap ada acara, kami tinggal berkoordinasi dengan EO. Tidak perlu sampai membentuk panitia kecil segala. Terlalu repot," tegas Bagoes.
Saking banyaknya kegiatan, RT 5 mempunyai kalender tersendiri. Penentuan tanggal merahnya berbeda dengan kalender biasa. "Biasanya, kegiatan selama setahun sudah disusun. Biar tidak lupa, sekalian dipasang di kalender. Tanggal kegiatan diberi warna merah. Kalau bukan warga RT 5, mereka pasti bingung melihatnya," kata Edi sambil tersenyum.
Aktivitas yang seabrek, ternyata, memiliki efek samping. Ceritanya, Juni lalu, Bagoes harus lengser karena masa jabatannya habis. Sebenarnya ada dua kandidat yang akan bersaing menggantikannya. Tapi, karena keder dengan tugas ketua RT yang berjibun, mereka mengundurkan diri. Akhirnya, setelah melalui proses bujuk-membujuk dan pemilu sederhana, Sudarwi terpilih sebagai ketua RT 5 yang baru.
Budi Purboyo yang masuk jajaran pengurus RT 5 baru sebagai sekretaris mengakui, berbagai macam kegiatan warga RT 5 membuat mereka semakin rukun. "Rasanya memiliki satu keluarga besar. Kami tidak hanya bersama saat senang. Saat ada yang sakit pun, semuanya ikut peduli," cetus pria yang bekerja di PT Petrokimia Gresik itu.
Salah satu bentuk kebersamaan tersebut adalah diberlakukannya jam belajar. Mulai pukul 18.00 hingga 19.30, semua anak-anak dilarang keluar. Belajar atau tidak, mereka diwajibkan untuk berdiam di rumah. "Jadi, kalau ada orang yang melihat anak-anak di luar rumah, anak itu harus dimarahi. Kalau perlu diantarkan pulang," papar Budi. Larangan itu tidak berlaku pada hari libur.
"Ini wujud sikap toleransi. Anak-anak yang sudah ikut les sore memang bisa main, tapi anak-anak yang tidak ikut les kan harus belajar," jelasnya. Aturan tersebut diambil berdasar kesepakatan warga. Memang ada beberapa yang protes. Tapi setelah dijelaskan, mereka mengerti. Imbas aturan tersebut, kini semua kegiatan, mulai rapat hingga arisan PKK, harus dimulai setelah setengah delapan.
Aturan itu tidak hanya berlaku untuk warga RT 5. Anak-anak dari daerah lain yang datang juga diminta pulang ke rumahnya masing-masing. Biasanya, warga di sekitar RT 5 sudah mengetahui aturan tersebut. "Karena itu, orang tua tidak protes kalau anaknya dimarahi," cetus Budi. Aturan tersebut memberi hasil positif. Tahun ajaran baru lalu, banyak anak dari RT 5 yang diterima di SMPN 28 favorit di wilayah itu.
Warga RT 5 mudah berinteraksi karena memiliki kesamaan visi dan misi. Hampir 80 persen penghuninya memiliki latar belakang pendidikan S-1. Mereka memang tergolong keluarga muda karena banyak kepala keluarganya yang berasal dari angkatan 1966. Tak heran bila mereka menginginkan lingkungan terbaik untuk pertumbuhan anak-anaknya.
"Kami berusaha mewadahi semua keinginan anak. Mau main bola ayo. Main musik, boleh. Yang penting, mereka tetap berada di lingkungan RT 5. Ini memudahkan kami mengawasi mereka," jelas Budi. "Kami ini pernah muda. Kalau salah bergaul, masa depan taruhannya. Karena itu, kami tidak ingin anak-anak terbawa dengan lingkungan yang salah," imbuh Bagoes. (*)